"KITA DILAHIRKAN UNTUK SUKSES, TETAPI DIKONDISIKAN UNTUK GAGAL"
(diambil dari buku Born To Be A Genius karya Adi W Gunawan)
"Ayo, Nak. Ayo,
sini. Ayo berdiri . . . . . ya, pintar. Ayo jalan . . . . . satu . . . . . dua
. . . . . oops (anak Anda jatuh). Nggak apa-apa. . . . . . Pintar. Ayo berdiri
lagi. Ya . . . . . maju sini . . . . . wah, anak mama ini hebat!"
Ini adalah potongan dari
kalimat yang biasa kita gunakan saat kita mengajar anak kita berjalan. Tidak
pernah saya menemukan orangtua atau siapa saja yang akan memaki atau memarahi
anaknya ketika anaknya jatuh saat sedang belajar berjalan. "Bodoh. Goblok.
Begitu saja tidak bisa. Memang dasar anak blo'on. Sudah, nggak usah belajar
jalan. Percuma saja ngajari kamu. Jatuh terus dan nggak bisa terus!" Tentu
Anda akan mengatakan, "Mana ada orangtua yang seperti itu. Kalau ada, maka
orangtua itu perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa karena agak gila."
Mengapa anak kita dapat
belajar dengan begitu cepat dan seakan-akan tidak perlu mengeluarkan daya upaya
khusus untuk menyerap semua informasi? Proses belajar berjalan demikian alami
dan mudah. Mengapa ini bisa terjadi? Ini semua karena anak belajar dalam
suasana yang sangat kondusif. Suasana yang dipenuhi dengan ekspektasi atau
pengharapan positif. Ada perasaan didukung dan dicintai tanpa syarat. Kesalahan
tidak dipandang sebagai suatu hal yang memalukan tetapi dimengerti sebagai suatu
bagian dari keseluruhan proses, dan mereka diterima apa adanya sesuai dengan
kecepatan belajar mereka.
Ingatkah Anda sewaktu
Anda pertama kali belajar naik sepeda? Berapa kali Anda jatuh-bangun untuk bisa
menguasai keseimbangan? Saat Anda jatuh untuk pertama kalinya, apakah Anda
langsung berhenti? Walaupun Anda jatuh berkali-kali dan mengalami luka di lutut
atau kaki, mengapa Anda terus mencoba? Mungkin Anda pernah mengalami jatuh ke
got karena Anda masih belum bisa mengendalikan jalannya sepeda, tapi mengapa
masih Anda teruskan? Ini semua karena kebahagiaan yang Anda rasakan saat Anda
belajar mengendarai sepeda. Jatuh-bangun tidaklah dipandang sebagai suatu
kegagalan, tetapi lebih sebagai suatu harga yang harus dibayar untuk akhirnya
bisa menikmati kemampuan bersepeda.
Skenario ini berubah
total saat anak masuk ke sekolah. Bila sekarang ini kita masuk ke suatu ruangan
kelas, maka yang kita lihat adalah wajah-wajah yang bosan dan takut. Murid
merasa bosan karena pemikiran yang kreatif dan rasa haus akan ilmu pengetahuan,
semangat dan kebahagiaan yang seharusnya ada dalam setiap proses belajar, kini
telah hilang. Ditambah lagi dengan tuntutan agar semua murid selalu bisa
memberikan jawaban yang benar. Bila mereka membuat kesalahan, maka mereka akan
mendapat hukuman. Murid atau anak kita tidak dimotivasi oleh rasa senang untuk belajar,
tetapi lebih didorong oleh rasa takut untuk berbuat salah.
Sering kali kita
menemukan diri kita tidak berani menjawab suatu pertanyaan bukan karena kita
tidak tahu jawabannya, tetapi lebih karena didorong oleh rasa takut kalau
jawaban kita salah. Kita khawatir kalau sampai jawaban kita salah maka kita
akan terlihat bodoh dan ditertawakan orang lain.